DAN SAYAPUN TELAH BERTEMAN DENGAN SYETAN


Wah dah lama kali tak ngeblog nih...kehabisan inspirasi...tapi yang pasti emang dah mulai amnesia kaya'nya...disini saya coba merilis tulisan akhwat saya siti barokah yang kebetulan ketemu di situs pertemenan terpopuler saat ini FACEBOOK. walaupun permohonan izin sudah dilayangkan...namun sang akhwat ni belum kasih jawaban tak apalah mumpung lagi mood on rilis aja...paling yg punya tulisan ngambek..afwan ukhti....semoga catatan mu mengingatkan kita semua agar tak menjadi teman-temen syetan laknatullah....berikut catatanya...

Saya adalah salah satu dari sekian orang yang gatal jika memegang uang. Berapapun nominalnya sedikit atau banyak pasti akan buru-buru lenyap dari genggaman Alias Pemboros Akut.

Sejak sebelas tahun silam saat saya mulai mendapat penghasilan dari keringat sendiri, setiap habis gajian saya memuaskan semua keinginan saya, tak pernah menimbang-nimbang apapun.

Akibatnya, selama sebelas tahun bekerja, saya tidak punya simpanan atau investasi apapun juga.

Saya bukanlah berasal dari keluarga dengan uang melimpah ruah, tapi orang tua saya selalu mencukupi kebutuhan saya, artinya sampai detik inipun saya tidak pernah pusing-pusing memikirkan makan sehari-hari, tempat tinggal dan kebutuhan primer lainnya

Dengan kata lain saya seorang lajang nebeng orang tua yang owner bimbel sekaligus guru dan writer freelancer yang sekali-kali mendapat honor dari penerbit juga masih jualan voucer untuk menambah penghasilan. Seharusnya penghasilan saya lebih dari cukup untuk menghidupi paling tidak diri sendiri . Nyatanya setiap akhir bulan saya masih menengok kanan dan kiri alias kehabisan uang. Bersyukur saya bukan orang yang suka berhutang. Jangan Tanya berapa saldo tabungan saya karena nilainya sangat memalukan..

Baiklah, agaknya saya harus mengevaluasi pos-pos mana saja yang membuat pengeluaran saya begitu membengkak.

1. Jalan-jalan dan hang out bareng teman setiap weekend
Alasan: Saya perlu sekedar refresing dan bersosialisasi.

Faktanya: Kadang saya banyak menghabiskan uang untuk makan di tempat mahal sekedar menunjukkan prestise padahal sama sekali tidak memuaskan lidah Indonesia saya. Nyatanya saya lebih suka makan nasi uduk dan semur jengkolnya mpok Kasih yang harganya Cuma lima ribu perak.
Dan diam-diam setiap weekend saya merindukan tidur siang yang nyenyak di kamar saya.

2. Pembelian make up
Alasan : Setiap perempuan selalu ingin cantik, saya selalu ingin mencoba produk kosmestik atau sekedar tergiur iklan.

Faktanya: Saya tidak pernah make up kecuali jika saya ingin pergi kondangan sehari-haripun saya amat jarang sisiran.

3. Belanja Pakaian
Alasan: Saya sering membeli pakaian dengan harga ratusan ribu rupiah, berharap penampilan saya lebih chic dan berkelas

Faktanya: Saya lebih nyaman memakai kaos seharga Rp. 15.000 perak yang saya beli diemperan Malioboro dua tahun lalu.

4. Belanja Yang tidak perlu
Tak ada alasan khusus untuk pos yang satu ini karena kadang saya hanya membeli sesuatu karena terlihat lucu atau unik
Sebagai contoh saya pernah membeli panggangan impor yang harganya lumayan karena bentuknya yang tak lazim.

Faktanya: Tugas memasak sampai detik ini masih diserahkan ibu saya. Dan saya hampir tidak pernah menggunakan alat itu.

Dari evaluasi di atas saya mendapat pelajaran bahwa selama ini saya telah membelanjakan uang saya untuk sesuatu yang sama sekali tidak saya butuhkan bahkan tidak seratus persen saya inginkan.

Adalah ibu saya yang beberapa tahun terakhir mengendus sifat pemboros saya. Dia mengajak saya melihat sekeliling bagaimana seorang tetangga yang hanya buruh kasar harian pabrik tak punya penghasilan sampingan manapun, tapi mampu mengontrak rumah, menyekolahkan tiga anaknya bahkan mengirim ibunya dikampung. Padahal penghasilannya 3 kali lipat di bawah saya.

Ibu saya mengingat kan saya bagaimana seorang petani yang setiap hari meneteskan keringat tak pernah lelah bekerja seumur hidup dalam kesederhanaan yang begitu mempesona,

Ibu mengajarkan saya agar banyak mensyukuri nikmat yang Allah berikan dengan membelanjakan harta secara bijaksana. dia mulai membuat pos – pos keuangan yang setiap bulan harus saya isi seperti pos kurban, pos zakat, pos arisan, dan pos tabungan.

Ibu saya tidak pernah belajar teori ekonomi,cash flow atau manajemen keuangan dari manapun beliau hanya tamatan Sekolah Rakyat. Tapi beliau pengelola keuangan yang amat bijaksana. Saya yang sarjana ekonomi belajar macam-macam teori ekonomi, mantan konsultan keuangan perusahaan swasta telah dipermalukan oleh nya.


Secara kebetulan saya melihat satu ayat dalam kitab Al Quran yang artinya kurang lebih “ Sesungguhnya pemboros itu temannya syetan”. Saya baru tersadar , bahwa sedemikian kentalkah persahabatan saya dengan syetan? Saya amat nista untuk mengatakan” DAN SAYAPUN TELAH BERTEMAN DENGAN SYETAN”.

its mind

its mind

Mengenai Saya

Foto Saya
To2 Blog
Rangkasbitung, Banten, Indonesia
Suyanto, Alumni Daar El Qolam tahun 1995 dan sekarang sebagai pengajar aktif di PP. La Tansa
Lihat profil lengkapku

Translate Blog

anda pengunjung ke ?

Number of Visitors Website counter

ayo gabung disini

buku tamu


ShoutMix chat widget

recent post